Website Resmi Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur
" Panganku Beragam, Bergizi, Tersedia Cukup dan Terjangkau "

TOKO TANI INDONESIA - MEMOTONG RANTAI TATA NIAGA YANG TERLALU PANJANG

Kamis, 22 September 2016

Acara Peluncuran Toko Tani di gelar di Lapangan Makodam V Brawijaya. Dalam acara rersebut juga hadir Menteri Pertanian RI. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman mengatakan, keberadaan Toko Tani Indonesia dapat mengurangi disparitas dan akan mengubah struktur pasar baru yang selama ini berbentuk puluhan taun, rantai pasoknya terlalu panjang. “Misal beras, harganya Rp 7.500 per kg langsung dari petani, dan itu untung, artinya bila produksi 8 juta ton di Jatim, kita menekan 20 persen saja, kita menekan biaya untuk masyarakat sebesar Rp 12,8 Triliun, dan ini luar biasa, selain itu target utama Toko Tani Indonesia adalah membuat petani untung dan konsumen tersenyum karena harga murah akibat pembelian yang langsung dari petani. “Kami berharap petani selalu dalam posisi untung karena bila rugi pasti beralih. Lagipula, ketahanan pangan identik dengan Ketahanan Negara sehingga kalau petani lemah maka Negara pasti akan ikut lemah,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Menteri pertanian mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang memiliki Toko Tani Indonesia cukup banyak disejumlah daerahnya. Selain itu, cikal bakal Toko Tani Indonesia ini sebenarnya lahir di Jatim, tepatnya saat Menteri Pertanian berkunjung ke Ngantang, Malang. Ia mengapresiasi keberadaan Toko Tani Indonesia di Jatim yang sudah sampai di kabupaten/kota dengan jumlah sekitar 160 Toko Tani Indonesia. Jumlah tersebut mencapai 23 persen jumlah Toko Tani Indonesia secara Nasional yang sebanyak 700 Toko Tani Indonesia.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, bahwa beras premium yang biasa dijual i=di pasar di atas Rp. 10 ribu per kg, di TTI di jual dengan harga maksimal Rp. 7.500,-. Beras ini diambil dari petani dan gapoktan, sehingga harga bisa jauh lebih murah. Disparitas harga dari petani ke TTI tidak lebih dari 10 persen. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyampaikan bahwa ide awal didirikannya TTI yakni dari Jawa Timur. Saya saat melakukan kunjungan kerja ke Ngantang, Malang yang sedang panen bawang dengan harga petani bawang Rp 8.000 per kg. Tapi setelah masuk di Pasar Kramat Jati (Jakarta) bisa mencapai Rp 36 ribu per kg. Kenaikannya bukan 40 persen tapi 400 persen,” tuturnya. Menurutnya, yang menanam bawang petani selama 120 hari tapi yang menikmati keuntungannya tengkulak dan distributor pangan.

“Didirikannya TTI awalnya sangat diragukan akan gagal seperti Bulogmart, namun hal ini berhasil dan akhirnya DPR setuju. Semua sudah di launching  mulai di Jakarta, Sumatera Barat dan sekarang di Jawa Timur. ”

Selanjutnya ia menceritakan saat mengajukan Toko Tani Indonesia ke Komisi IV DPR. Saat itu, dirinya mengaku usulnya sempat ditolak. Bahkan, para anggota dewan ragu akan programnya. Namun dia tetap optimis karena ini merupakan toko para petani Indonesia.

“Bahkan sampai ke Badan Anggaran (Banggar), kami berusaha meyakinkan ini pergerakan petani seluruh Indonesia. Setelsh lapor Pak Presiden,” lanjutkan Pak Menteri”, ini tokonya petani,”katanya. Selain itu, Amran berharap ke depan petani bisa selalu untung. Tak hanya bagi petani yang memliki lading saja, tetapi juga yang tak punya lading, serta pedagang. “Jangan ada yang khianati merah putih. Kita masih membutuhkan negeri ini 1000 tahun lagi. Negara kuat, pangan kuat, sebab ketahanan pangan identik dengan ketahanan Negara,”kata Amran disambut tepuk tangan para hadirin.

Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo menyatakan dukungannya dengan didirikannya TTI. “Toko Tani ini menjadi keputusan penting dan sangat strategis”. Kami akan mendukung penuh karena konsep dasarnya bagus untuk bisa memotong tata niaga pangan yang terlalu panjang.” (Metropolis)

Dalam acara ini dilakukan pula Pengukuhan Asosiasi Gapoktan Pengembangan Usaha Pangan masyarakat Jatim oleh Menteri Pertanian RI, dimana Dr, Ardo Sahak, SE, MM selaku Pembina, dan Ketua Gapoktan Slambur, Kab. Madiun selaku Ketua Asosiasi.

Dalam kesempatan itu, Menteri Pertanian dan Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo yang akrab disapa dengan Pakde Karwo ini turut menjual kebutuhan pokok seperti beras, minyak gorEng, dan gula di salah satu stan.

Masyarakat juga sangat antusias dan bersyukur adanya took tani tersebut, Salah satunya, Rahayu warga Surabaya yang mengaku kalau beras yang dijual di toko tani lebih murah. “Saya bersyukur jika ada took tani seperti ini. Harganya lebih murah dan berasnya juga bagus,” ujarnya bersama anaknya yang berusaha membawa barang bawaannya.

Setelah itu Menteri Pertanian langsung berkunjung ke bangunan milik Pemprov Jatim dengan didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan Jatim, Ardo Sahak dan Kepala Dinas Pertanian Jatim, Dr. Ir Wibowo Eko Putro, MMT. Bangunan tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk toko tani yang berlokasi di wilayah Kecamatam Pagesangan, Kota Surabaya.

 

Sumber : Kompas & metropolis

 


Tags :


« kembali ke berita